Personal value dan integritas

Masih seputar tema resignation, atau pengunduran diri. Kali ini kita akan membahas topik menarik yang banyak menimbulkan dilema dan mungkin membuat kamu tidak bisa tidur berhari-hari. Masalah nilai-nilai pribadi (personal values) dan integritas.

Pertanyaan ini datang dari Budhy yang selama 4 tahun ini sudah menduduki posisi cukup tinggi di tempat kerjanya di sebuah instansi pemerintah.

"… Semakin lama saya merasa apa yang harus saya kerjakan (perintah pimpinan) tidak sesuai dengan apa yang seharusnya saya kerjakan, apalagi bertentangan dengan prinsip dan hati nurani saya… Saya ingin pindah ke instansi lain meskipun sebagai staf, tetapi pangkat dan golongan saya sudah terlalu tinggi sehingga akan menyulitkan penempatan di instansi yang mau menerima saya. Akhirnya saya memutuskan untuk mengundurkan diri dari jabatan saya. Sudah tepatkah apa yang saya lakukan? "



Dear Budhy,

Selamat! Kamu adalah satu diantara sedikit orang yang lebih mementingkan nilai-nilai dan integritas daripada sebuah pekerjaan. Hal ini bukanlah hal yang remeh apalagi di jaman sekarang.

Untuk menjawab pertanyaan kamu…, apakah kamu sekarang lebih lega dan dapat tidur di malam hari? Jika iya, kamu sudah melakukan hal yang tepat. Mementingkan nilai-nilai pribadi dan integritas memang sulit dilakukan. Dalam situasi dimana saat nilai-nilai pribadi ata personal values sudah tidak lagi sejalan dengan etika kerja atasan atau bahkan kultur di tempat kerja, ada beberapa pilihan:

1. Pilih untuk menutup mata. Atau bahkan mengubah personal values kamu untuk mengikuti kultur di tempat kerja. Hal ini banyak dilakukan orang karena merupakan opsi yang paling mudah dilakukan (namun sangat tidak disarankan). Pilihan ini hanya dapat dilakukan untuk jangka waktu yang pendek. Terutama apabila personal values kamu sangat kuat, lama-lama kamu pasti juga tidak akan merasa nyaman melakukannya.

2. Pindah bagian/departemen. Hal ini agak lebih sulit dilakukan karena melibatkan persetujuan atasan dan kamu juga harus mencari departemen lain yang kebetulan ada posisi kosong. Masalahnya adalah apabila value yang bertentangan adalah kultur organisasi secara keseluruhan, maka dimanapun kamu berada di perusahaan tersebut tidak akan menyelesaikan masalah dan tidak membuatmu betah.

3. Bertahan untuk bekerja (sesuai personal values kamu) atau bahkan mengubah etika/kultur di tempat kerja. Hal ini akan melibatkan kefasihan dalam berpolitik di kantor, membangun aliansi dan mengumpulkan dukungan. Mengubah cara kerja, kebiasaan dan kultur bukanlah perkara gampang. Dibutuhkan strategi yang jitu dan keinginan yang sangat kuat. Kamu pasti akan mendapatkan banyak ‘perlawanan’ dan malah membuat kamu enggak nyaman lagi berada di situ. Namun jika kamu benar-benar bertekad, tidak ada yang tidak mungkin.

4. Berhenti dari perusahaan.

Sebelum kamu buru-buru menulis surat resign kamu, banyak faktor yang harus dipikirkan benar-benar, mulai dari masa depan karirmu sampai keuanganmu. Pastikan bahwa kamu telah mencoba semua pilihan dan ini adalah jalan terakhir yang terpaksa kamu tempuh. Apabila keputusanmu sudah bulat, akan lebih baik apabila kamu sudah ada tempat baru untuk bekerja.

Apapun pilihan tindakan kamu, tidak ada yang benar atau salah. Semua yang kamu putuskan pastinya yang terbaik untukmu.

Untuk mencari pekerjaan lebih mudah, buat profil jalurkerja sekarang.

Support by Urbanhire, untuk melihat sumber artikel klik disini